Senin, 16 November 2009

Hamil Makan Sayur, Bayi Jauh dari Diabetes


Gizi.net - STOCKHOLM, KOMPAS.com - Mengonsumsi makanan padat nutrisi seperti sayuran dan buah-buahan di masa kehamilan memang sangat penting artinya bagi janin. Bukti penelitian terbaru pun menunjukkan, kebiasaan para ibu menyantap sayuran menjauhkan bayi mereka dari ancaman penyakit.

Riset para ilmuwan di Sahlgrenska Academy Swiss, yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatric Diabetes menyatakan, ibu hamil yang makan sayur setiap hari cenderung memiliki anak yang terbebas dari diabetes tipe 1.

"Ini adalah riset pertama yang menunjukkan adanya hubungan antara asupan sayur selama kehamilan dengan risiko anak secara langsung mengidap diabetes tipe 1. Tetapi, beragam riset lanjutan seperti ini diperlukan sebelum kami dapat menyatakan hal yang definitif," ungkap peneliti dan ahli nutrisi Hilde Brekke dari Sahlgrenska Academy.

Brekke menggagas riset bersama rekan ilmuwan lain dari Linköping University, yang melakukan studi populasi yang disebut ABIS (All Babies in Southeast Sweden).

Mereka mengumpulkan sampel darah dari hampir 6.000 anak berusia lima tahun untuk kemudian dianalisa. Dari total populasi, tiga persen anak tercatat mengalami peningkatan kadar antibodi penanda diabetes tipe 1 atau mengidap diabetes tipe 1 pada usia lima tahun.

Penanda risiko ini meningkat hingga dua kali lipat dan lazim ditemukan pada anak yang ibunya jarang menyantap sayur pada saat hamil. Sedangkan risiko paling rendah tercatat di antara anak-anak yang ibunya makan sayuran setiap hari.

"Kami tak bisa mengatakan dengan pasti soal basis penelitian ini bahwa sayuran itu sendiri yang memberi efek protektif. Tetapi faktor lain yang berhubungan dengan asupan sayur, seperti standar pendidikan ibu, tampaknya tidak menjelaskan hubungan. Proteksi ini juga tidak dapat dijelaskan dengan faktor-faktor pola makan atau faktor risiko lain yang diketahui," ujar Brekke.

Istilah "sayur " dalam penelitian ini, kata Brekke, termasuk seluruh jenis sayuran kecuali sayuran umbi semisal wortel, lobak atau kentang.

Sumber : KOMPAS.com - Jumat, 30 Oktober 2009 | 09:26 WIB
Editor: acandra
Sumber : AP

Telur Bantu Perkembangan IQ Anak

Gizi.net - YOGYAKARTA--Hasil penelitian Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengungkapkan bahwa telur dapat membantu perkembangan "intelligence quotient" (IQ/inteligensi) dan mengatasi kekurangan yodium pada anak."Telur sangat penting untuk dikonsumsi oleh anak usia sekolah. Mengonsumsi dua telur setiap hari dapat membantu perkembangan IQ dan mengobati penyakit defisiensi yodium," kata ahli gizi FK UGM Toto Sudargo SKM MKes di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, hasil penelitian yang dilakukan pada anak sekolah di kawasan pegunungan seperti Wonosobo dan Wonogiri, Jawa Tengah, menunjukkan dampak kekurangan yodium dapat menurunkan IQ anak sekitar 10-15 persen."Namun ketika diobati dengan telur bisa menambah IQ sekitar 20 persen. Untuk itu, sebagai langkah antisipatif, anak usia dini disarankan untuk mengonsumsi dua telur setiap hari untuk membantu perkembangan IQ," katanya.

Ia mengatakan, rata-rata anak sekolah di seluruh Indonesia sekitar 35-65 persen masih kekurangan gizi, terutama defisiensi yodium, bahkan di daerah Wonosobo dan Wonogiri diketahui sekitar 19-33 persen siswa sekolah kekurangan yodium.

Menurut dia, anak perlu mengonsumsi telur, karena daya serap satu telur yang beratnya 60 gram mengandung 7-8 gram protein, sedangkan untuk kebutuhan anak sekolah adalah sebesar 45 gram protein."Jadi, anak sekolah perlu mengonsumsi telur. Apalagi jika digoreng, karena ada tambahan 10 gram protein, yang akan menambah 110 kilogram kalori," katanya.

Ketua Umum Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Martalena Purba MCN PhD mengatakan, masalah gizi kurang menyebabkan kualitas penduduk Indonesia rendah terutama pada anak balita, ibu hamil, orang lanjut usia, dan siswa.

Menurut dia, berdasarkan penelitian, gizi kurang sering terjadi pada masa-masa tertentu seperti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan siklus panen. "Selain itu, juga sering muncul ketika terjadi bencana, yang menyebabkan semakin bertambahnya jumlah penderita gizi kurang pada kelompok yang rentan," katanya. (ant/kpo)

Sumber : Republika Online - Pendidikan - Riset - By Republika Newsroom - Senin, 05 Oktober 2009